Berita

Perpustakaan Nasional RI
Artikel

Perpustakaan Proklamator Bung Hatta Menyelenggarakan Seminar Kajian Kebunghattaan : Bung Hatta dan Islam

Bukittinggi – Selasa (4/10), UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta, melalui Substansi Pengembangan, Pengolahan dan Pelestarian Bahan Perpustakaan melaksanakan kegiatan Seminar Kajian dengan Tema Bung Hatta dan Islam yang berlangsung di ruang Seminar UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta. Kegiatan ini diikuti oleh 40 peserta serta tamu undangan diantaranya Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sumatera Barat, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Bukittinggi, Kabupaten Agam, dan Kota Padang Panjang. Narasumber pada seminar kali ini adalah Silfia Hanani, beliau adalah Dosen, Sejarawan, Sosiolog dan Peneliti dari UIN Sjech Muhammad Djamil Djambek dan Fahruddin Faiz, beliau merupakan Dosen Filsafat Islam dari UIN Yogyakarta. Desli Yenita sebagai Penyaji, beliau merupakan Pustakawan dan Pengkaji dari UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta. Kegiatan seminar kali ini dimoderatori oleh Melfi Abra, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bukittinggi.

Koordinator Pengembangan, Pengolahan dan Pelestarian Bahan Pustaka, Afrison selaku penanggung jawab kegiatan dalam laporannya menyampaikan latar belakang pemilihan tema Bung Hatta dan Islam karena ketokohan Bung Hatta yang menjadi contoh bagi seluruh generasi bangsa, pemikiran-pemikiran Bung Hatta yang masih relevan dalam perkembangan nilai dan etika yang sarat akan nuansa Islam yang kental. Acara Seminar ini di buka oleh Plh. Kepala UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta, Fajri Oktaria Edwar. Dalam sambutannya, beliau mengungkapkan kajian ini merupakan analisis literatur Bung Hatta dengan mengungkap kembali sosok Bung Hatta sebagai seorang penganut ajaran Islam dan sebagai cucu dari ulama yang besar di Batuhampar. Kita akan mengulas bagaimana sosok perilaku, etika dan pemikiran Bung Hatta yang menjalankan agama Islam dalam kesehariannya. Kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak sehingga dapat menjadi input bagi penulisan kajian tentang pemikiran/ide/gagasan Bung Hatta selanjutnya. Pembahasan ini murni tanpa mengaitkan dengan unsur sara dan agama.

Dalam paparannya, Desli Yenita menyampaikan dasar-dasar kehidupan agama Islam yang kuat diperoleh dari didikan keluarga, para ulama dan guru ngaji,  ternyata mampu membentuk pribadi Hatta yang salah satunya adalah anti korupsi. Selanjutnya, Fahruddin Faiz menyampaikan faktor-faktor pembentuk pemikiran Islam dan agama Bung Hatta didapatkan dari guru-guru beliau, budaya Minangkabau, dan pendidikan di Barat. Salah satu pemikiran Islam Bung Hatta adalah Islam Gincu dan Islam Garam. Saat itu beliau didatang oleh kelompok muda Muslim yang menganggap Bung Hatta semakin sekuler karena dianggap tidak ada usaha serius untuk memformalkan ajaran Islam. Bung Hatta menyatakan perbedaan saya dengan Natsir ibarat segelas air di depan saya ini, yang tampaknya begitu bening dan transparan. Nah, cobalah masukkan setetes gincu dan aduk, warnanya jelas berubah namun rasanya tidak berubah. Tetapi, coba masukkan setengah sendok garam dan kemudian aduk, warnanya tidak akan berubah namun rasanya berubah. Natsir menganggap Islam seperti gincu, sementara saya menganggap Islam seperti garam. Tanamkan Islam di dalam hati pemuda-pemuda dan mereka akan membereskan seluruh negeri ini. Pakailah filsafat garam, tak tampak tapi terasa. Janganlah pakai filsafat gincu, tampak tapi tak terasa. Adapun Silfia Hanani dalam paparannya menyampaikan, dalam beragama Bung Hatta tidak menyerahkan semua urusan sebagai takdir, tetapi berada pada moderasi. Dia tidak ada di kanan dan tidak ada di kiri. Ini berarti Bung Hatta memfungsikan agama dan beragama memakai fikiran dan landasan-landasan keagaman. Itulah hal yang sangat terlihat dari karakteristik Bung Hatta. Bung Hatta bukan berarti beragama tanpa memberikan agama itu fikiran tetapi juga memberikan Bung Hatta landasan kehidupan dengan ayat-ayat yang ada dalam agama.

Setelah pemaparan, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Pada sesi ini terlihat antusias peserta yang begitu tinggi dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan. Tanya jawab berlangsung secara hangat dan juga responsif antara penanya dan narasumber.

Setelah sesi tanya jawab selesai, kemudian moderator menyimpulkan bahwa kita dapat mengetahui lebih jauh terkait Islam Gincu dan Islam Garam, Islam yang terasa tapi tidak terlihat artinya lebih kepada aplikatifnya, kemudian ada karakter moral, ada karakter kinerja, karakter beliau terbentuk dengan karakter moral dengan rasa dan kejiwaan, sifat kejujuran, sifat toleransi dan juga ada karakter kinerja dimana beliau adalah orang yang disiplin, tanggung jawab dan menyelesaikan segala pekerjaan dengan tuntas. Kemudian beliau juga terlahir dari keluarga yang secara sosiokultural sangat berpengaruh, yaitu adat bersandi sarak, sarak bersandi kitabullah. Dimana adat Minangkabau telah membentuk karakter beliau menjadi orang yang peka terhadap lingkungannya. Dari segi ekonomi, karena beliau dibesarkan dari lingkungan perekonomian yaitu kakek Ilyas-nya mempunyai usaha transportasi, hal itu juga mempengaruhi kehidupan beliau, ditambah lagi ayah tiri beliau Agus Haji Ning yang juga seorang pengusaha yang bergerak dibidang jasa. Kemudian religiositasnya terbentuk karena ada tokoh-tokoh sepeti Sjech Djamil Djambek, Guru Abdullah, Sjech Abdurrahman (kakek beliau), dan juga Arsyad (paman beliau) juga sangat berpengaruh besar.

Selanjutnya acara ditutup oleh Nalia Arjuti selaku Master of Ceremony, namun sebelumnya UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta menyerahkan cenderamata kepada narasumber, penyaji dan moderator yang diwakili oleh Afrison.

Penulis : Hari Sunandar

Penyunting : Christyawan Ridanto Pitoyo

Fotografer : Johar Dwiaji Putra


Galeri Berita


Image Image Image Image Image Image Image