Berita

Perpustakaan Nasional RI
Artikel

Bangkit bersama Literasi

Bukittinggi - Ia bergerak, membawa perubahan besar untuk negeri. Perjalanan hidup menjadikannya sosok yang bestari. Cerdas namun tetap sederhana. Pribadinya menginspirasi. Ialah Hatta.

Mohammad Hatta atau yang lebih kita kenal sebagai Bung Hatta, lahir di Fort de Kock, atau yang sekarang lebih dikenal dengan Bukittinggi pada 12 Agustus 1902. Merupakan Wakil Presiden pertama Republik Indonesia. Berjuang bersama dengan pejuang lainnya dan berhasil mengantarkan Indonesia pada kemerdekaan dari belenggu penjajah

UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta pada 11 Agustus 2022 memperingati lari lahir ke-120 tahun Bung Hatta bersamaan dengan acara puncak pelaksanaan kegiatan perpustakaan berbasis inklusi sosial: Pergelaran produk Inklusi Sosial Ke-Bung Hatta-an. Kegiatan ini dimeriahkan dengan Talkshow bertajuk 120 Tahun Hatta: Bangkit bersama Literasi; penampilan spesial dari penyair Taufiq Ismail; Pameran Online; serta pengaugerahan pemustaka terbaik tahun 2022.

Kegiatan dibuka dengan laporan Pertanggung Jawaban Kegiatan dari Kepala UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta, Drs. Nur Karim, M.Hum “kegiatan Pergelaran Produk Inklusi Sosial ke-Bung Hatta-an ini dilaksanakan sebagai ajang promosi bagi paradigma layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial.” Papar Nur Karim.

“Perayaan hari lahir Bung Hatta harus dilakukan dengan pendekatan kekinian agar bisa diterima dan dinikmati oleh generasi milenial. Dengan menumbuhkembangkan kegemaran membaca dan kecintaan terhadap buku oleh generasi muda, diharapkan kita dapat bangkit bersama literasi.” Ucap Drs. Deni Kurniadi, M. Hum., Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, dalam sambutannya sekaligus membuka kegiatan.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pemutaran video Impact Story kegiatan Layanan Perpustakaan Proklamator Bung Hatta berbasis inklusi sosial tahun 2021. Cerita yang diangkat berasal dari Yusnimar Nora dan Tommy Gusman. Yusnimar merupakan salah satu peserta Workshop Karya Tulis Tentang Bung Hatta yang berprofesi sebagai guru TK, penulis, dan penggiat literasi di Kota Bukittinggi.  Sedangkan Tommy adalah peserta Workshop Pengembangan Seni Menyulam Tradisional dan perajin sulaman yang ada di Kota Bukittinggi.

Selanjutnya penampilan spesial dari Taufiq Ismail, Penyair dan Sastrawan besar Indonesia yang lahir di Pandai Sikek, Sumatera Barat. Beliau menyairkan puisi berjudul “Rindu Pada Setelan Jas Putih Dan Pantalon Putih Bung Hatta”.

Masuk pada acara utama, Talkshow bertajuk 120 tahun Hatta: bangkit bersama Literasi. Dimoderatori oleh Muhammad Subhan dengan Narasumber Dra. Halida Nuriah Hatta, M.A. (Putri Bung Hatta), Prof. Sri Edi Swasono, Ph.D (Menantu Bung Hatta), Drs. Deni Kurniadi, M. Hum. (Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan), H. Mahyeldi Ansharullah, SP (Gubernur Sumatera Barat), dan H. Hasril Chaniago (Jurnalis dan penulis biografi Indonesia).

“Tentu banyak sekali pemikiran dan budaya literasi bung hatta yang patut kita teladani sebagai penerus tongkat estafet bangsa. Apa saja warisan karakter, ide dan gagasan Bung Hatta itu? Untuk menjawab itu dihadirkan narasumber kita pada talkshow ini”, ucap Subhan dalam membuka Talkshow 120 Tahun Hatta.

Halida Hatta menceritakan bagaimana kehidupannya dengan sang ayah, Hatta. Cohesiveness dan komunikasi dalam keluarga begitu penting. Sederhana dalam artian hidup ditata dengan baik, dan ayah berkomunikasi dengan sangat baik dalam keluarga, berperan dalam pembentukan jati diri kami sebagai anak-anak.

“Ketika diberi hadiah buku, itu adalah sebuah kemewahan bagi kami karena di situ kami membaca sekaligus berinteraksi. Jadi itulah hal yang mungkin sederhana tapi juga kaya. Sesuatu yang tidak berlebih dan membumi tetapi secara tidak langsung kita bisa mendapatkan pencerahan yang luar biasa,” ucap Halida.

Melanjutkan, Guru Besar Universitas Indonesia, Prof. Sri Edi Swasono memaparkan apa yang beliau ketahui mengenai teladan Hatta yang dapat kita ambil dalam kehidupan saat ini.

“Saya mengenal Hatta saat saya Sekolah Dasar. Pada saat kelas 5, saya ditanya ingin menjadi apa ketika sudah besar. Saya jawab, saya ingin menjadi Doktorandus, seperti Bung Hatta.” Kenang Edi saat pertama kali mengenal Hatta. Edi juga menekankan bahwa, Bung Hatta memiliki tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan hanya sekadar mencerdaskan otak bangsa saja. Mencerdaskan kehidupan bangsa adalah membuat bangsa sadar akan harga dirinya, mandiri, tidak lagi minder seperti seorang inlander. Mencedaskan kehidupan bangsa juga merupakan konsepsi budaya, bukan sekadar konsepsi fisik semata.

Deni Kurniadi kemudian menaggapi hal tersebut dengan menjelaskan bahwa Perpustakaan memiki peran fundamental dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengangkat dan menginternalisasi sosok Hatta pada masyarakat yang dikenal dengan tingkat literasinya yang tinggi. Perpustakaan juga mengambil peran menyejahterakan masyarakat dengan cara memberikan pengetahuan kepada masyarakat melalui implementasi langsung, yaitu kegiatan-kegiatan inklusi sosial. “Perpustakaan juga bisa memberikan pengetahuan melalui implentasi langsung dari buku-buku yang ada di perpustakaan. Buku-buku yang bisa memberikan life skill dan dipraktekan dalam masyarakat, minimal dipraktekkan dalam ekonomi keluarga dan memberikan kesejahteraan pada masyarakat”, papar Deni.

Hasril Chaniago kemudian menjelaskan nilai-nilai karakter Hatta yang patut kita lestarikan pada masyarakt. Hatta merupakan seorang pembaca dan penulis, yang sama hebatnya. “ada orang yang bisa membaca, tapi tidak bisa menulis. Inilah yang perlu kita tiru”, tambah Hasril. Keteraturan hidup Bung Hatta patut kita tiru, salah satunya mengenai ketepatan waktu beliau.

Mahyeldi kemudian menegaskan bahwa kita harus bisa mewariskan nilai-nilai Bung Hatta pada generasi penerus bangsa. Beberapa sikap teguh sebagai wujud kecintaan Bung Hatta terhadap bangsa dan negara seperti janji Hatta yang tidak akan menikah sebelum kemerdekaan Indonesia. Termasuk juga sikap Hatta yang tetap menghormati Bung Karno sebagai rekan dan sebagai sahabat, serta masih banyak kisah lain Bung Hatta yang selalu hadir dan tampil ketika Indonesia dalam keadaan sulit.

“Hal tersebut juga dihadirkan oleh masyarakat Sumbar, ketika peristiwa PDRI misalnya. Sosok Bung Hatta mewakili masyarakat Minang. Minang juga memiliki jasa terhadap kemerdekaan Indonesia,” ucap Mahyeldi. Gubernur berharap para generasi muda dapat mencontoh perilaku Bung Hatta.

Kegiatan ini kemudian ditutup dengan penganugerahan Pemustaka terbaik tahun 2022. Hendra Wijaya memperoleh penghargaan sebagai Pemustaka Terbaik I, diikuti oleh Cherli Herlinda sebagai Pemustaka Terbaik II dan Nelson sebagai Pemustaka Terbaik III.

Dengan adanya kegiatan Pergelaran Produk Inklusi Sosial Ke-Bung Hatta-an ini, diharapkan masyarakat dapat semakin sadar akan peran perpustakaan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, seperti yang selalu dirindukan Bung Hatta kepada yang paling Ia cintai, yaitu Rakyat Indonesia.

 

Penulis : Rendy Oktriananda
Penyunting : Christyawan Ridanto Pitoyo
Fotografer : Basitungkin Media Production

Galeri Berita


Image Image Image Image Image Image Image