Artikel

Jejak Bung Hatta dalam Perkembangan Perpustakaan Proklamator Bung Hatta

Kita semua familiar dengan Bandara Soekarno-Hatta. Tapi mungkin kita lebih mengenal nama depannya saja, atau bahkan menganggap itu hanyalah sebuah nama dan melupakan sosok di belakangnya. Tanpa Hatta, mungkin tidak akan ada bandara ini, Soekarno, bahkan bangsa ini. Beliau adalah salah satu pemikir hebat yang bangsa ini pernah punya. Beliau adalah Mohammad Hatta.

            Mohammad Hatta merupakan salah satu tokoh proklamator Indonesia yang lahir pada 12 Agustus 1902 di Bukittinggi, Sumatera Barat. Sejak masih belia, ketertarikan beliau terhadap buku dan politik sangatlah besar. Kecintaan Hatta terhadap buku datang dari satu kejadian di masa kecilnya. Hatta diberikan tiga buku oleh pamannya dan dapat mengetahui bahwa beliau bisa menjelajah ke mancanegara dan seolah berbicara dengan tokoh-tokoh hebat dunia. Itulah hebatnya buku bagi Hatta kecil.

            “Aku rela dipenjara asalkan dengan buku, karena dengan buku aku bebas.” Kutipan ini merupakan bukti kecintaan Hatta pada buku. Beliau bahkan membawa 16 peti buku saat diasingkan Belanda ke Banda Neira. Kecintaan kepada buku diwujudkannya dalam koleksi buku-buku pribadi yang jumlahnya mencapai lebih dari 10 ribu buku.

            Pada tanggal 12 Agustus 1976, Perpustakaan Umum Mohammad Hatta yang terletak di jalan Dr. A. Rivai No.17 Bukittinggi akhirnya didirikan. Perpustakaan ini diresmikan bertepatan dengan hari ulang tahun Hatta yang ke-74 oleh beliau sendiri. Perpustakaan Umum Mohammad Hatta kemudian diganti namanya menjadi Perpustakaan Proklamator Bung Hatta dan akhirnya menjadi Unit Pelaksana Teknis Perpustakaan Nasional RI yang bertanggung jawab langsung kepada Kepala Perpustakaan Nasional RI.

            Berangkat dari visi Perpustakaan Proklamator Bung Hatta yaitu  ”Terwujudnya masyarakat berpengetahuan, berkarakter dan berbudaya melalui nilai-nilai nasionalisme Bung Hatta” tentu membutuhkan sebuah sistem yang baik juga dalam mewujudkannya. Hal inilah yang mendorong Perpustakaan Proklamator Bung Hatta menggunakan sistem informasi dan jaringan yang terintegrasi dalam pelaksanaan dan pelayanannya kepada masyarakat.

Sistem otomasi membantu meningkatkan efisiensi dan efektifitas kegiatan di perpustakaan. Sistem otomasi perpustakaan menggabungkan teknologi informasi dengan bidang pekerjaan di perpustakaan yang dapat diintegrasikan dengan teknologi informasi. Bentuk penerapan dari sistem otomasi adalah penggunaan katalog online (OPAC), kegiatan sirkulasi, kegiatan pengolahan dan pengkatalogan koleksi dan berbagai kegiatan lain yang dapat diintegrasikan. Penerapan sistem ini akan mengurangi beban kerja para pustakawan atau staf perpustakaan karena pekerjaan manual dapat dipercepat dan beberapa pekerjaan sudah diambil alih oleh komputer. Dengan begitu, pustakawan memiliki lebih banyak waktu untuk memikirkan pengembangan perpustakaan Manfaat lain dari sistem otomasi juga dapat meningkatkan kerja sama dan keterhubungan dengan perpustakaan lainnya. Mudahnya akses informasi dari berbagai pendekatan akan menimbulkan kepuasan bagi pengguna perpustakaan yang akan berdampak positif bagi citra perpustakaan.

            Di Perpustakaan Proklamator Bung Hatta, inlislite digunakan sebagai aplikasi utama sistem perpustakaan. Aplikasi ini dikembangkan oleh Perpustakaan Nasional RI dan digunakan sebagai server utama pada Perpustakaan Proklamator Bung Hatta.

Dengan adanya perkembangan ini, kita mengharapkan agar generasi muda kembali tertarik untuk mengunjungi perpustakaan yang dulu dianggap sebagai tempat yang membosankan bagi banyak orang. Kemajuan ini juga kita berharap agar masyarakat dapat membangun kembali negeri ini dengan literasi yang baik.

Bung Hatta pernah berkata, “Buku jadi salah satu sumber energi dan kebebasan bagi mereka yang haus akan ilmu pengetahuan.” Generasi Bung Hatta saat itu menyadari bahwa tidak mungkin mereka memahami keadaan dunia jika bukan karena buku. Membaca telah menjadi pintu mereka kepada alam pemikiran baru sehingga mereka mengerti keadaan Indonesia. Dengan membaca, akhirnya mereka bisa memahami apa bedanya dijajah atau tidak dijajah. Semoga dengan ini kita dapat mengembalikan semangat juang dan minat baca masyarakat seperti yang dilakukan Bung Hatta dulu.

 

Penulis            : Mira Rizky Septiana Tanjung

Penyunting     : Christyawan Ridanto Pitoyo