Berita

MENJAGA KANDUNGAN INFORMASI MELALUI MIKROFILM

  • 26JUN2018 0
posted by Maynardo Ricard, S.T

SETELAH berumur puluhan tahun, kerusakan bahan pustaka adalah hal yang pasti terjadi karena bahan pustaka yang pada umumnya berbahan dasar kertas akan mengalami pelapukan. Pelapukan bisa terjadi sebab bahan pembuatan kertas tersebut bersifat asam dan merupakan bahan organik yang selalu akan bereaksi dan akan mengurai. Oleh karena itulah pemeliharaan bahan pustaka sangat perlu dilakukan untuk menjaga kondisi fisik ataupun kandungan informasi yang terkandung didalamnya.
Secara garis besar, terdapat 2 (dua) perlakuan terhadap bahan pustaka yang rusak yaitu menyelamatkan kondisi fisik atau penyelamatan kandungan informasi yang terkandung di dalam bahan pustaka tersebut. Salah satu cara untuk menyelamatkan kandungan informasi adalah dengan cara mengalih mediakan bentuk bahan pustaka dari media kertas menjadi bentuk mikrofilm. Dengan memanfaatkan mikrofilm, bahan pustaka yang sudah lapuk tersebut bisa disimpan di tempat khusus untuk mencegah kerusakan lebih lanjut namun kandungan informasi yang terkandung di dalamnya masih bisa diakses dengan sebuah alat bantu khusus.
Secara umum ada tiga jenis film yang digunakan dalam pembuatan mikrofilm yaitu sebagai berikut:
1. Cellulose-nitrate based microform
Cellulose-nitrate merupakan bahan yang mudah terbakar, cenderung melepaskan gas-gas yang berbahaya dan merupakan bahan yang bisa mengalami pembusukan alamiah. Pada awal tahun 1950-an, Cellulose-nitrate tidak lagi digunakan sebagai dasar film.
2. Acetate film
Acetate film, tidak terlalu berbahaya seperti Cellulose-nitrate yang mudah terbakar tetapi bahan ini bisa mengalami degradasi dalam kurun waktu tertentu. Degradasi ini dapat terjadi lebih cepat saat film tidak disimpan secara tepat. Walaupun saat ini acetate film masih digunakan sebagai bahan dasar bentuk mikro, namun penggunaan acetate film tidak diterima lagi sebagai medium pelestarian bahan pustaka bentuk mikro.



3. Polyester film
Polyester adalah satu-satunya bahan film yang saat ini dianjurkan untuk pelestarian bentuk mikro. Bahan ini cenderung stabil dan tahan lama. Dengan metode penyimpanan yang tepat, film hitam putih polyester memiliki LE (Life Expectancy) selama 500 tahun.
Dengan menggunakan polyester film, bentuk mikrofilm sebagai salah satu media penyimpanan informasi sanggup bertahan selama ratusan tahun, namun dengan catatan metode perawatan dan pemeliharaan mikrofilm tersebut dilakukan dengan tepat. Ada beberapa jenis pemeliharaan mikrofilm yang perlu diketahui diantaranya yaitu:
a. Planned Maintenance
Suatu kegiatan pemeliharaan yang dalam pelaksanaannya diorganisasikan dengan perencanaan, kontrol, dan penggunaan laporan-laporan untuk suatu rencana yang telah ditentukan sebelumnya.
b. Unplanned Maintenance
Suatu kegiatan pemeliharaan mikrofilm yang dalam pelaksanaannya tidak dibuat rencana terlebih dahulu.
c. Preventive Maintenance
Suatu kegiatan pemeliharaan mikrofilm yang dilaksanakan pada interval yang ditentukan sebelumnya atau yang sesuai untuk kriteria yang ditentukan dan ditujukan untuk mengurangi kemungkinan kegagalan.
d. Corrective Maintenance
Suatu kegiatan pemeliharaan mikrofilm yang dilakukan setelah terjadi kegagalan dan ditunjukkan untuk memperbaiki suatu keadaan agar dapat melakukan fungsinya kembali sebagaimana mestinya.
e. Emergency Maintenance
Suatu kegiatan pemeliharaan yang dilaksanakan dengan segera untuk menghindari akibat-akibat dan dampak kerusakan yang lebih berat lagi.
f. Condition Based Maintenance
Memelihara peralatan yang benar di saat atau waktu yang tepat. Condition Based Maintenance didasarkan pada penggunaan real time data untuk memprioritaskan dan mengoptimalkan sumber daya pemeliharaan. Pengamatan status dari sebuah sistem dikenal sebagai condition monitoring. Sistem yang demikian akan mampu dengan sempurna menentukan kondisi peralatan, dan bertindak hanya ketika pemeliharaan benar-benar perlu untuk dilakukan.
g. Scheduled Maintenance
Jadwal pemeliharaan peralatan yang dilaksanakan untuk suatu interval waktu yang telah ditentukan sebelumnya.
Pelaksanaan kegiatan alih media bentuk mikrofilm merupakan bagian yang tidak boleh untuk dilepaskan dengan kegiatan perawatan dan pemeliharaan mikrofilm. Keduanya adalah satu kesatuan dan tidak dapat berdiri sendiri yang lebih dikenal dengan istilah O & M (Operation and Maintenance). Jika kegiatan perawatan dan pemeliharaan mikrofilm tidak berjalan dengan baik maka pelaksanaan pelestarian bahan pustaka melalui alih media bentuk mikrofilm bisa dikatakan kurang berhasil atau gagal. [Deni/Staf Pengembangan dan Pelestarian Bahan Pustaka PPBH]

Daftar Pustaka:
Moh. Kodir, dkk. (2014). Pedoman Perawatan dan Pemeliharaan Mikrofilm. Jakarta : Perpustakaan Nasional RI

Galeri Foto



0 Comments

Leave a comment

Pemutakhiran

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Jl. Salemba Raya 28A Kotak Pos 3624
Jakarta 10002 - Indonesia

Jam Layanan

Senin - Jumat : 09.00 - 15.00 (WIB)

Kontak Kami

(021) 929 209 79
(021) 392 7919; (021) 319 084 79 (fax)
info@perpusnas.go.id

Pernyataan Privasi | Ketentuan Penggunaan
© 2014 UPT Bung Hatta. All Rights Reserved.
Anda pengunjung ke 116438
©2015 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia